Menguatkan Petani Sawit di Lahan Gambut: Jalan Menuju Sawit Berkelanjutan

Oleh: Miswadi dan Subrantas

Perkebunan kelapa sawit rakyat memegang peranan strategis dalam menopang perekonomian nasional. Sekitar 37 persen dari total luasan sawit Indonesia dikelola oleh petani swadaya, sebagian besar berada di wilayah gambut yang rentan terhadap degradasi lingkungan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di satu sisi, sawit rakyat menjadi sumber utama penghidupan jutaan keluarga petani. Namun di sisi lain, praktik pengelolaan yang belum berkelanjutan berpotensi memperparah krisis ekologis dan iklim.

Kondisi ini menuntut pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan kapasitas petani dalam mengelola lahan gambut secara lestari. Program Lokalatih Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan Berbasis ISPO/RSPO yang dilaksanakan dalam kerangka Proyek IMPLI (Integrated Management of Peatland Landscapes in Indonesia) tahun 2025 di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan memberikan pelajaran penting tentang bagaimana investasi pada peningkatan kapasitas petani dapat menjadi kunci transformasi sawit rakyat menuju praktik yang berkelanjutan.

Tantangan Sawit Rakyat di Lahan Gambut

Lahan gambut memiliki karakteristik ekologis yang unik. Ia menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar, berfungsi sebagai pengatur tata air, dan menopang keanekaragaman hayati. Namun, pengelolaan gambut yang tidak tepat, terutama melalui pengeringan berlebihan, dapat memicu subsidensi, emisi karbon, dan meningkatkan risiko kebakaran.

Dalam konteks sawit rakyat, tantangan yang dihadapi tidak semata bersifat teknis. Keterbatasan pengetahuan, akses informasi, legalitas lahan, hingga kelembagaan petani menjadi hambatan utama. Standar keberlanjutan seperti ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) yang bersifat wajib dan RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang bersifat sukarela, meski penting untuk akses pasar dan peningkatan daya saing, masih sulit dijangkau oleh sebagian besar petani swadaya.

Kesenjangan kapasitas ini menegaskan bahwa pendekatan pelatihan yang konvensional dan satu arah tidak lagi memadai. Dibutuhkan metode pembelajaran yang kontekstual, partisipatif, dan langsung menyentuh persoalan nyata di lapangan.

Belajar dari Program Lokalatih IMPLI

Program lokalatih IMPLI melibatkan sekitar 800 petani sawit swadaya di tiga provinsi sentra gambut, Riau, Jambi dan Sumatera Selatan. Pelatihan dirancang menggunakan pendekatan andragogi, pendidikan orang dewasa, dengan metode diskusi, studi kasus lokal, dan praktik lapangan.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan. Peningkatan tertinggi terjadi di wilayah dengan kapasitas awal yang lebih rendah, menandakan bahwa pendekatan ini efektif menjembatani kesenjangan pengetahuan.

Materi teknis seperti manajemen tata air gambut dan pencegahan kebakaran menjadi modul yang paling mudah diserap karena langsung berkaitan dengan aktivitas harian petani. Peserta juga menunjukkan peningkatan kesadaran ekologis, terutama terkait pentingnya menjaga tinggi muka air tanah untuk mencegah kebakaran.

Namun, program ini juga mengungkap tantangan besar: kesiapan administratif dan kelembagaan petani masih rendah. Legalitas lahan, pengurusan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), hingga persyaratan sertifikasi ISPO/RSPO menjadi hambatan utama yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelatihan singkat.

Selain itu, partisipasi perempuan masih belum merata di seluruh wilayah intervensi. Padahal, peran perempuan dalam pengelolaan kebun dan pengambilan keputusan rumah tangga sangat signifikan. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan pelatihan yang lebih responsif gender.

Lebih dari Sekadar Pelatihan

Pengalaman lokalatih IMPLI menegaskan bahwa pelatihan saja tidak cukup. Tanpa pendampingan lanjutan dan dukungan kebijakan, peningkatan kapasitas petani berisiko tidak berkelanjutan.

Pendampingan legalitas lahan dan penguatan kelembagaan petani menjadi kunci. Klinik legalitas untuk percepatan STDB, penguatan kelompok tani dan koperasi, dan pengembangan sistem pengendalian internal (Internal Control System/ICS) perlu menjadi agenda utama pasca-pelatihan.

Di sisi lain, penyediaan sarana pemantauan sederhana seperti piezometer untuk mengukur tinggi muka air tanah dapat berfungsi sebagai sistem peringatan dini kebakaran berbasis komunitas. Langkah ini relatif murah, namun memiliki dampak besar dalam mencegah karhutla.

Lebih jauh, pengelolaan gambut berkelanjutan oleh petani rakyat perlu diposisikan sebagai instrumen strategis mitigasi perubahan iklim. Petani bukan sekadar objek kebijakan, melainkan aktor utama dalam upaya menekan emisi dan menjaga ketahanan ekosistem.

Investasi Sosial yang Berdampak Luas

Investasi pada peningkatan kapasitas petani sawit swadaya di lahan gambut merupakan strategi biaya-efektif untuk mencapai tiga tujuan sekaligus: keberlanjutan lingkungan, ketahanan ekonomi petani, dan pemenuhan standar pasar global.

Model lokalatih IMPLI menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif, kontekstual, dan berbasis praktik lapangan mampu mempercepat proses transformasi di tingkat tapak. Model ini sangat layak direplikasi di wilayah gambut lainnya sebagai bagian dari kebijakan nasional pengendalian karhutla dan implementasi ISPO.

Di tengah sorotan global terhadap industri sawit, penguatan petani swadaya adalah jalan strategis menuju sawit Indonesia yang berkelanjutan, inklusif, dan berkeadilan. Sebab, masa depan sawit tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat pusat, tetapi juga oleh sejauh mana petani di tapak mampu menjadi pelaku utama perubahan.[Mi5]

Galeri

Bagikan artikel ini

Facebook
Twitter
Linkdin
WhatsApp

Artikel lainnya