Oleh: Miswadi dan Subrantas
Di tengah tantangan besar pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, secercah harapan tumbuh dari Kampung Temusai, Kecamatan Bunga Raya, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Harapan itu hadir melalui kerja nyata Yayasan Buana Nusa Lestari (Buana Nusa) yang secara konsisten memfasilitasi masyarakat untuk membangun sistem pengelolaan sawit yang adil, berkelanjutan, dan berpihak pada petani kecil.
Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, Buana Nusa berperan sebagai katalisator perubahan, menjembatani kebutuhan petani, dukungan permodalan, penguatan kelembagaan, hingga pengembangan usaha produktif. Semua upaya ini dirangkai dalam semangat besar mewujudkan Siak sebagai Kabupaten Hijau.
Dari Kelompok Tani Menuju Koperasi Mandiri
Perjalanan perubahan dimulai dari pembentukan Kelompok Tani Durimas di Kampung Temusai. YBNL memfasilitasi proses pengorganisasian petani, membangun kesadaran kolektif, serta memperkuat kapasitas sosial masyarakat dalam mengelola usaha bersama. Kelompok tani ini kemudian bertransformasi menjadi Koperasi Produsen Durimas Tuasai Makmur (KP-DTM), Nomor AHU 0034730.AH.01.29.TAHUN 2025, sebuah entitas ekonomi rakyat yang legal, transparan, dan profesional.
Transformasi ini bukan sekadar perubahan bentuk organisasi, tetapi lompatan besar menuju tata kelola usaha yang lebih akuntabel. Melalui koperasi, petani kini memiliki wadah resmi untuk mengakses permodalan, membangun kemitraan, serta mengelola usaha secara kolektif demi meningkatkan kesejahteraan bersama.
Menyemai Bibit, Menyemai Masa Depan
Salah satu langkah strategis Buana Nusa adalah mendorong koperasi mengembangkan unit usaha pembibitan kelapa sawit bersertifikat. Upaya ini berangkat dari kebutuhan mendesak akan bibit unggul untuk peremajaan ribuan hektare kebun sawit tua dan rusak di Kabupaten Siak.
Buana Nusa memfasilitasi penyusunan rencana usaha (business plan) yang matang, dengan mengadopsi sistem pembibitan dua tahap, pre-nursery dan main-nursery, yang memastikan produksi bibit unggul yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan petani swadaya (smallholder), sehingga koperasi memiliki peta jalan yang jelas dalam mengembangkan usaha pembibitan. Tidak berhenti di situ, Buana Nusa juga menghubungkan koperasi dengan EcoNusantara untuk memperoleh dukungan permodalan usaha, sekaligus menjalin kemitraan dengan PT Dami Mas Sejahtera dan CV Wasista Adidaya guna menjamin ketersediaan benih sawit bersertifikat.
Bahkan, Buana Nusa turut berkontribusi langsung dalam memberikan dukungan permodalan awal, memastikan koperasi dapat membangun infrastruktur pembibitan, mulai dari lahan, nursery, hingga sistem pengairan.
Langkah ini tidak hanya memperkuat ekonomi petani, tetapi juga menjadi strategi ekologis penting, mengurangi tekanan ekspansi lahan ke kawasan hutan, sekaligus mendorong praktik perkebunan sawit yang ramah lingkungan.
Pendampingan yang Menyeluruh
Keunggulan pendekatan Buana Nusa terletak pada pendampingan berkelanjutan. Buana Nusa tidak hanya hadir pada fase awal pembentukan, tetapi terus mengawal penguatan kelembagaan koperasi, mulai dari tata kelola organisasi, administrasi, dan keuangan.
Pendampingan ini membangun budaya transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme di tingkat akar rumput. Petani tidak lagi sekadar menjadi produsen bahan mentah, tetapi aktor utama dalam rantai nilai ekonomi yang lebih adil.
Kontribusi Nyata untuk Siak Kabupaten Hijau
Seluruh peran Yayasan Buana Nusa Lestari di Kampung Temusai sejatinya adalah potret nyata dari konsep pembangunan hijau berbasis masyarakat. Melalui penguatan koperasi, pengembangan pembibitan sawit bersertifikat, serta pendampingan kelembagaan, Buana Nusa membuktikan bahwa keberlanjutan ekologis dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi.
Model ini menjadi contoh penting bahwa transformasi sektor sawit tidak harus dilakukan melalui pendekatan top-down semata, melainkan dapat tumbuh dari desa, dari tangan-tangan petani sendiri, dengan dukungan fasilitator yang visioner.
Menanam Harapan untuk Masa Depan
Di Kampung Temusai, ribuan bibit sawit kini tumbuh di nursery. Namun yang lebih penting, tumbuh pula harapan baru: “harapan akan pertanian berkelanjutan, kemandirian ekonomi, dan masa depan hijau bagi generasi mendatang”.
Yayasan Buana Nusa Lestari telah menanam benih perubahan. Kini, bersama masyarakat Kampung Temusai, benih itu mulai bersemi, membawa pesan kuat bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar jargon, melainkan kerja nyata yang bisa dimulai dari desa.[Mi5]





